Penulis: Juli K. J. Volta Duha

Apa yang muncul dalam benak kita ketika berbicara tentang kesehatan jiwa? Kita akan berpikir tentang profesi umum yang berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa, yang populer diantaranya adalah psikolog dan psikiater. Lalu, apa hubungan pekerja sosial dalam kesehatan jiwa? Bahkan lebih lagi, apa itu pekerja sosial?

Pekerja sosial merupakan profesi yang melaksanakan praktik pekerjaan sosial. Praktik pekerjaan sosial adalah penyelenggaraan pertolongan profesional yang terencana, terpadu, berkesinambungan dan tersupervisi untuk mencegah disfungsi sosial, serta memulihkan dan meningkatkan keberfungsian individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (undang-undang nomor 14 Tahun 2019).

Dalam praktiknya, salah satu fokus pekerja sosial adalah bekerja dengan penyandang disabilitas. Salah satu jenis penyandang disabilitas adalah disabilitas mental, yang dikenal dengan istilah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), di mana ODGJ adalah orang-orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Pekerja sosial bekerja dengan ODGJ dalam meningkatkan keberfungsian sosial mereka melalui program habilitasi dan rehabilitasi sosial yang berupa bimbingan mental, bimbingan sosial, penyadaran masyarakat, konseling, dan masih banyak lagi (Permensos nomor 7 Tahun 2017). Dari hal tersebut, dapat dikatakan bahwa pekerja sosial mempunyai peran dalam dan mewujudkan kesehatan jiwa.

Pada peringatan hari kesehatan jiwa internasional tahun ini World Federation of Mental Health (WFMH) mengusung tema “Mental Health for All, Greater Investment-Greater Access”. Tema ini dilandasi oleh situasi dunia saat ini yang sedang dilanda pandemi covid-19 yang sedikit banyak mempengaruhi kesehatan jiwa masyarakat, di mana orang-orang mengalami masalah kejiwaan, seperti gejala kecemasan. Mengutip dari kompas.com dalam tulisan “WHO Peringatkan Krisis Gangguan Mental Global Akibat Pandemi”, krisis kesehatan mental membayangi dunia karena saat ini jutaan orang di berbagai negara dikelilingi oleh kematian dan peyakit, serta terpaksa menjalani karantina, kemiskinan, dan kecemasan akibat pandemi covid-19.

Dalam mewujudan kesehatan jiwa di tengah pandemi ini, peran pekerja sosial sangat dibutuhkan dalam menangani masyarakat yang terkena dampak covid-19 dalam hal kesehatan jiwa. Di Indonesia, pekerja sosial dapat menjadi garda terdepan dalam menangani dan mengurangi kesehatan jiwa. Investasi yang diusung oleh WFMH di tengah pandemi covid 19 ini dapat diwujudkan melalui pemaksimalan peran pekerja sosial di tengah masyarakat, yang mana kita ketahui saat ini pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya mengucurkan dana untuk penanganan covid 19.

Pekerja sosial bekerja dengan menerapkan metode pekerjaan sosial untuk mewujudkan kesehatan jiwa. Pekerja sosial dapat menerapkan metode case work dalam mengenali masalah kejiwaan dengan mengenali gejala gangguan jiwa. Hal ini dapat menghasilkan sebuah keputusan apakah pekerja sosial akan menangani langsung dalam bentuk dukungan psikososial atau konseling, ataupun merujuk kepada profesi lain seperti psikolog atau psikiater sebagai upaya preventif penanganan gangguan jiwa. Pekerja sosial juga dapat melakukan upaya promotif dengan melakukan penyuluhan atau sosialisasi tentang kesehatan jiwa. Hal-hal tersebut merupakan wujud penyediaan akses bagi masyarakat untuk mendapatkan kesehatan jiwa.

Melalui momentum hari kesehatan jiwa sedunia yang mengangkat tema yang tentang aksesibilitas kesehatan jiwa kepada seluruh orang di tengah kondisi pandemi ini, diharapkan peran pekerja sosial semakin nyata dan strategis dalam upaya kesehatan jiwa. Pemerintah juga diharapkan dapat berinvestasi melalui kerjasama dengan profesi pekerja sosial dalam mempromosikan dan memberdayakan profesi pekerjaan sosial sebagai wujud pemaksimalan peran pekerja sosial dalam upaya kesehatan jiwa, tidak hanya di waktu pandemi ini saja, melainkan di masa mendatang, sehingga upaya kesehatan jiwa dapat semakin efektif di waktu mendatang dan kiprah pekerja sosial dalam dunia kesehatan jiwa dapat semakin nyata di masyarakat.

Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia!

Bagikan Cerita ini ke :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *