Penulis : Aris Tristanto, Sp.P.S.N 

Kadang saya heran dengan pernyataan dari sekelompok orang bahwa bantuan sosial (bansos) yang diberikan oleh pemerintah tidak tepat sasaran. Saat ditanya kenapa tidak tepat sasaran, bukan jawab yang saya terima tetapi  malah pertanyaan.  Kenapa yang dapat dia lagi, padahal yang miskin banyak?  Kenapa saya tidak dapat bantuan padahal saya miskin? Kenapa dia dapat bantuan saya tidak, saya kan tidak punya pekerjaan? Masih banyak lagi pertanyaan dan argumen lainya yang seolah-olah menyalahkan pemerintah.

Hal yang berbeda datang dari masyarakat di Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat,  selama masa pandemi Covid-19 ini keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH) di kota tersebut silih berganti untuk mengundurkan diri dari PKH. Hal tersebut saya ketahui dari diskusi ringan via telpon dengan supervisor PKH Kota Padang.

Keberanian Keluarga Penerima Manfaat (KPM)  untuk keluar dari zona nyaman pada masa pandemi Covid-19 ini cukup membuat saya kaget. Disaat banyak orang yang menyatakan perekonomi sulit sehingga selalu berharap akan bantuan dari pemerintah, ada keluarga yang dengan besar hati mau mengundurkan diri dari bantuan pemerintah. Saya pribadi yakin, di luar sana tidak banyak keluarga yang kaya hati seperti mereka.

Maha Athira begitulah nama lengkap teman saya, menceritakan bahwa salah satu  dari KPM  yang mengundurkan diri tersebut hanya berpofesi sebagai perjual es tebu dipinggiran jalan kota. Saya pun terenyah, saat kota tercinta sedang berada berada pada zona merah akibat pandemi Covid-19 tapi warganya bisa memiliki hati semulia itu, sungguh luar biasa.

Kekaguman saya pada masyarakat kota bengkuang tersebut kembali bertambah di saat Maha Athira menirukan ucapan salah seorang KPM  dalam logat minang  khas pada saat mengundurkan diri

awak mah lah yakin untuk kalua dari PKH ko karano parekonomian awak alah ancak dan wak raso alah dak berhak pulo narimo bantuan pemerintah ko, masih banyak urang dilua yang hilang karajo karano payakik ko dan labih membutuhkan bantuan

“Saya mantap dan yakin untuk mengundurkan diri sebagai perserta PKH karena kondisi perekonomian saya sudah membaik dan merasa sudah tidak berhak menerima bantuan dari pemerintah, masih banyak diluar sana yang harus kehilangan pekerjaan karena pandemi dan lebih membutuhkan bantuan”.

Sungguh menurut saya  mereka adalah sebaik-baik manusia, karena dalam hadis riwayat Thabrani disebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Menjadi pribadi yang bermanfaat diibaratkan seperti menanam kebaikan untuk diri sendiri.

Saya pun mencoba bertanya pada Ira, panggilan keseharian teman saya, apakah ada paksaan dari pendamping sosial kepada mereka KPM untuk mengundurkan diri ? Ira pun menjelaskan bahwa program graduasi mandiri (sebutan lain untuk mengundurkan diri dari kepesertaan PKH)  bukan merupakan paksaan kepada KPM, mengingat makna PKH adalah upaya memutuskan mata rantai kemiskinan, tekad yang dibangun agar anak-anak keluarga sangat miskin ( extremely poor family) harus keluar dari lingkaran kemiskinan. Ada harapan yang hendak dicapai maka jadilah keluarga harapan.

Sebelum menutup diskusi ringan tersebut, Ira yang sudah 2,5 tahun menjadi SPV PKH kota elok tersebut menambahkan, selama menjadi SPV dirinya berserta rekan-rekan pendamping sosial tidak pernah memaksakan KPM PKH yang sudah mampu untuk mengundurkan diri. Namun yang dilakukan adalah  mendukung dan terus memotivasi agar KPM bisa berwirausaha mandiri dan mengundurkan diri secara sukarela.  

Pernyataan terakhir Ira tersebut kembali mengingatkan saya pada ucapan dosen semasa saya masih menimba ilmu di DAGO 367, hasil atau output dari pertolongan yang dilakukan oleh praktik pekerja sosial adalah to help people, to help them self, menolong orang lain agar orang tersebut dapat menolong dirinya sendiri.

Output tersebut berhasil dicapai oleh Ira berserta rekan-rekan PKH Kota Padang di tengah pandemi Covid-19. Rekan PKH tetap mampu membantu KPM keluar dari lingkar kemiskinan sehingga KPM tersebut dapat berfungsi sosial. Dalam hal ini  keberadaan SDM PKH hanya sebagai pendamping KPM dalam menggali potensi dan sumber untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

 Melihat hal keberhasilan tersebut, maka saya ingin mengajak seluruh rekan-rekan SDM PKH untuk tetap berperan aktif di tengah pandemi Covid-19 dalam pendampingan KPM baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga lebih banyak KPM yang dapat berfungsi sosial dan sukarela mengundurkan diri dari kepesertaan PKH.  Kepada masyarakat saya ingin menyampaikan bahwa percayalah, bansos dari pemerintah sudah sangat bagus dan tepat sasaran, tinggal kita bisa menjaga agar bansos ini bisa tetap bagus atau tidak sama sekali, dan ditengah pandemi Covid-19 empat masyarakat di kota tercinta sudah membuktikannya, sekarang tinggal kalian.

Bagikan Cerita ini ke :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *